Minggu, 16 Oktober 2016

Untuk Menjadi Renungan

Telah lama kita diajarkan leluhur kita tentang sebuah filosofi bermasyarakat yakni "makan gak makan asal kumpul". Namun filosofi tersebut perlahan telah kita musnahkan sendiri dan secara tak sadar digantikan dengan semangat rakus untuk menguasai pangan, pendidikan dan kesehatan sebagai komoditas layanan yang hanya diberikan kepada mereka yang mempunyai uang..
Sebagai manusia, sudah semestinya kita menangis pilu melihat kawan-kawan kita setanah air sulit untuk mencari penghidupan yg layak, menyaksikan manusia sanggup memenjarakan manusia lain hanya karena berbeda pendapat tentang CARA PANDANG bagaimana hidup yang baik.

Kita sama-sama menyaksikan dengan getir, apa yang telah kita sepakati bersama untuk menghormati hak dasar manusia, lalu kita ikatan diri kita pada perjanjian PBB, untuk berjanji sebagai bangsa yang menghormati hak asasi anak-anak kita sendiri, Kita berjanji untuk melakukan penghapusan atas segala bentuk penindasan dan diskriminasi terhadap kawan-kawan kita yg berbeda ras, warna kulit dan sebagainya dan hak asasi perempuan. Namun kita terpaksa menghianati sendiri perjanjian itu dengan meratifikasi perjanjian lain, yakni konvensi WTO yang dibuat oleh mereka yang ingin memuaskan nafsu serakah akumulasi kapital secara global.

Kita tak habis pikir, mengapa kita sampai hati nurani kita bisa membiarkan mereka 'merampok' warisan Tuhan berupa hak asasi dasar manusia seperti air, pendidikan, udara, dan layanan dasar lainnya yang direbut oleh para kaum kapitalis melalui perjanjian yang dipaksakan.

Hal ini yang harus dijadikan renungan, mengapa masih banyak masyarakat kita yang miskin. Karena sebenarnya masyarakat kita telah dimiskinkan oleh perjanjian itu secara tak langsung.
Kemanakah tujuan ideologi yang sama-sama kita anut? Kesejahteraan dan keadilan sudah bukan milik semua orang. Namun, hanya dimiliki oleh segelintir tuan-tuan yg memiliki segenggam uang.

Sudah sepatutnya kita sebagai penerus agar mengembalikan arah bangsa kearah yang semestinya, yakni sesuai amanat UUD NRI1945. Bangsa yang mewujudkan ekonomi kerakyatan, bangsa yang berdaulat secara politik dan bangsa yang memiliki moral yang anggun.

HENTIKAN BUDAYA LIBERAL, KEMBALIKAN GOTONG ROYONG!

Sejatinya kita telah diperbudak oleh sistem kaum pemodal. Otak kita telah dicuci agar fokus untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Kepekaan sosial perlahan luntur karena cape untuk memenuhi kebutuhan pribadi.
Sebagai pekerja kita dibenturkan dengan beban pekerjaan yg banyak tiap harinya dan jam kerja yg lama. Sebagai kaum intelektual, kita dibenturkan dengan sistem sks dan banyaknya agenda kegiatan kampus. Sebagai lulusan pendidikan, kita dibenturkan dengan lowongan pekerjaan yg sedikit sehingga kita mesti hantam sana-sini demi mencari penghidupan.

Sekali lagi, kita telah diperbudak oleh sistem busuk kaum pemodal. Agar rakyat yg mampu sibuk membeli brand baru produk kaum pemodal untuk memperbaiki penampilannya hingga melupakan saudara setanah air yg merintih kelaparan, melupakan saudara sebangsa yg diinjak harga dirinya, melupakan lingkungan sekitarnya.
 

Sejatinya sikaya harus membantu simiskin, karena itu adalah dinamika kehidupan.
Kita selalu berambisi untuk membeli brand baru produk kaum pemodal, agar dinilai trendy, agar dinilai gaul, agar dinilai mapan. Namun ambisi itu hilang ketika kita melihat saudara setanah air kita harus menjual harga dirinya demi sesuap nasi, ambisi itu hilang ketika melihat saudara sebangsa kita kelaparan, ambisi untuk membantu tentunya, ya karena kita telah diperbudak oleh strategi busuk yg disusun oleh kaum pemodal.

Rupanya kita telah lupa, bahwa bangsa ini dibangun bersama-sama, menumpahkan darah bersama-sama untuk melawan segala bentuk penindasan, dan dengan visi luhur yg disusun bersama-sama. Dari kaum bangsawan-hingga kaum yg tak memiliki kekayaan apa-apa.
Rupanya kita telah lupa, bahwa tujuan bangsa kita adalah memanusiakan-manusia, bahwa tujuan bangsa kita adalah anti penindasan dan anti penghisapan. Ya karena otak kita telah dicuci oleh sistem busuk yg disusun kaum pemodal.

Sudah semestinya untuk kita sama-sama mengingat lagi cita-cita luhur bangsa ini, untuk kita sama-sama mengingat lagi kultural yg dahulu sudah dipegang teguh; sama rata-sama rasa, gotong-royong untuk kemakmuran semua rakyat, sopan santun dan bangsa yg berbudaya.
Sepertinya kita telah mempunyai pondasi kuat untuk menghapus segala bentuk penindasan, yaa ideologi negara kita, pancasila. Mari sama-sama kita bangun kembali ideologi negara yg mungkin telah kita lupakan pengimplementasiannya dalam kehidupan sehari-hari. Agar cita-cita luhur bangsa yg termaktub dalam pembukaan uud nkri tahun 1945 dan yg termaktub dalam sila ke-5 ideologi negara dapat terwujud.
Jayalah Indonesiaku!