Sebagai manusia, sudah semestinya kita menangis pilu melihat kawan-kawan kita setanah air sulit untuk mencari penghidupan yg layak, menyaksikan manusia sanggup memenjarakan manusia lain hanya karena berbeda pendapat tentang CARA PANDANG bagaimana hidup yang baik.
Kita sama-sama menyaksikan dengan getir, apa yang telah kita sepakati
bersama untuk menghormati hak dasar manusia, lalu kita ikatan diri kita
pada perjanjian PBB, untuk berjanji sebagai bangsa yang menghormati hak
asasi anak-anak kita sendiri, Kita berjanji untuk melakukan penghapusan
atas segala bentuk penindasan dan diskriminasi terhadap kawan-kawan kita
yg berbeda ras, warna kulit dan sebagainya dan hak asasi perempuan.
Namun kita terpaksa menghianati sendiri perjanjian itu dengan
meratifikasi perjanjian lain, yakni konvensi WTO yang dibuat oleh mereka
yang ingin memuaskan nafsu serakah akumulasi kapital secara global.
Kita tak habis pikir, mengapa kita sampai hati nurani kita bisa membiarkan mereka 'merampok' warisan Tuhan berupa hak asasi dasar manusia seperti air, pendidikan, udara, dan layanan dasar lainnya yang direbut oleh para kaum kapitalis melalui perjanjian yang dipaksakan.
Hal ini yang harus dijadikan renungan, mengapa masih banyak masyarakat kita yang miskin. Karena sebenarnya masyarakat kita telah dimiskinkan oleh perjanjian itu secara tak langsung.
Kemanakah tujuan ideologi yang sama-sama kita anut? Kesejahteraan dan keadilan sudah bukan milik semua orang. Namun, hanya dimiliki oleh segelintir tuan-tuan yg memiliki segenggam uang.
Sudah sepatutnya kita sebagai penerus agar mengembalikan arah bangsa kearah yang semestinya, yakni sesuai amanat UUD NRI1945. Bangsa yang mewujudkan ekonomi kerakyatan, bangsa yang berdaulat secara politik dan bangsa yang memiliki moral yang anggun.
Kita tak habis pikir, mengapa kita sampai hati nurani kita bisa membiarkan mereka 'merampok' warisan Tuhan berupa hak asasi dasar manusia seperti air, pendidikan, udara, dan layanan dasar lainnya yang direbut oleh para kaum kapitalis melalui perjanjian yang dipaksakan.
Hal ini yang harus dijadikan renungan, mengapa masih banyak masyarakat kita yang miskin. Karena sebenarnya masyarakat kita telah dimiskinkan oleh perjanjian itu secara tak langsung.
Kemanakah tujuan ideologi yang sama-sama kita anut? Kesejahteraan dan keadilan sudah bukan milik semua orang. Namun, hanya dimiliki oleh segelintir tuan-tuan yg memiliki segenggam uang.
Sudah sepatutnya kita sebagai penerus agar mengembalikan arah bangsa kearah yang semestinya, yakni sesuai amanat UUD NRI1945. Bangsa yang mewujudkan ekonomi kerakyatan, bangsa yang berdaulat secara politik dan bangsa yang memiliki moral yang anggun.